laman

Sabtu, 24 September 2016

Kisah antara Aisyah, Hujan dan Aku



Hari ini aku mencoba menjadi manusia seperti biasa, pergi ke keramaian dan bertemu dengan banyak manusia yang sebenar benarnya manusia.
“bapak ibu, saya fotoin” aku mencoba menawarkan bantuan pada sebuah keluarga yang kesulitan ketika melakukan wefie.
“nggih mbak, maturnuwun sanget” sang ibu tampak tidak menolak tawaranku.
Dalam hati iri sekali melihat keluarga ini, nampak sang Ayah dengan sabar menggendong puteri kecilnya dan menggandeng sang Istri yang sedang hamil besar.
“sudah mbak, cukup”. kata sang Ayah
“nggih pak, ngapunten kalau hasilnya kurang bagus”. Kataku sambil memberikan hanphone yang ukuranyya kurang lebih 5 inchi itu.
“iya ndak papa mbak”.  Kata sang Ayah
“Adek cantik sekali namanya siapa?”. Sambil memegang tangan gadis kecil yang sedang dalam gendongan sang Ayah
“Aisyah”. Jawab gadis berumur sekitar 3 tahun itu dengan singkat dan malu-malu
“Aisyah cantik sekali” kataku sambil memegang pipinya.
“ terimakasih mba, ngomong ngomong  saya pulang dulu sudah mulai gerimis takutnya nanti hujan deras. Monggo mbak” sang ibu berpamitan denganku sambil tersenyum ramah.
“nggih ibu bapak hati hati dijalan”. Jawabku dengan senyuman andalanku. Menurutku senyuman macam ini senyuman paling manis yang diciptakan Tuhan.
Gadis mungil nan menggemaskan itu masih saja memandangku sambil tersenyum, Bahkan dari dalam mobil dia sempat melambaikan tangannya. betapa menggemaskan anak itu, kepolosannya kemudian secara tiba tiba membuat otakku melupakan banyak persoalan.
Gerimis itu kemudian berubah menjadi hujan yang sangat deras, kuurungkan niatku untuk pulang dan memutuskan untuk berteduh dahulu sambil menunggu hujan reda. Ternyata bukan hanya aku yang memilih menunggu hujan reda sebelum  meninggalkan salah satu taman di kota solo itu.
 Aku pandangi beberapa wajah mereka. mereka bagaikan memiliki dunia masing masing, yang mereka ciptakan sendiri.
Ada yang marah menyalahkan hujan kenapa turun, padahal  dia harus buru buru pulang kerumah. beraninya dia menyalahkan hujan,  kenapa dia tak mengiirim surat protes kepada Tuhan?.  Buakankah Tuhan yang memerintahlan hujan turun ? . entahlah.
Ada yang sangat menikmati hujan sambil bersandar dibahu sang kekasih, entah apa yang ada dibenaknya hingga orang itu dengan percaya diri menunjukkan kemesraan dengan laki laki yang bukan muhrimnya dihadapan orang banyak, hmmm biarlah aku rasa itu bukan urusanku.
Ada segerombolan remaja yang  saling bercanda satu sama lain, terlihat ada satu diantara mereka yang menjadi bahan bully-an, candaan khas remaja. Tiba tiba aku menghitung usia, ah sayangnya usiaku sudah tidak termasuk golongan remaja lagi.
Ada pula yang sibuk dengan gadgetnya, mungkin sedang sibuk update status “hujan”, atau mungkin sedang sibuk mengubungi orang terdekat untuk menjemput. Terlintas dibenakku untuk menyapanya, namun kuurungkan niat itu seketika.
Pemandangan seperti ini membuatku sedikit terheran. Mengapa mereka tidak saling mengobrol? Apa karna tidak kenal? Bukankah dengan saling menyapa mereka akan mengenal satu sama lain? Contohnya seperti aku dengan Aisyah.  gadis kecil itu keluar lagi di otakku. lambaian tangannya, senyumannya tiba tiba menghadirkan rindu.
Memang manusia memiliki kepala yang dengan Pencipta yang sama, namun ternyata dalam kepala manusia diisi oleh otak yang tidak sama dan pemikiran yang berbeda. Hujan itu membuat aku sedikit mengerti bahwa menyamakan pemikiran antar manusia tidaklah mudah.
Ada banyak manusia dengan golongan pemikiran yang berbeda.
Ada beberapa manusia dengan pemikiran sederhanya, Asalkan dia tidak melakukan hal yang dilarang dan merugikan orang lain maka hidupnya aman.
 Kelompok berikutnya manusia dengan penuh kepasrahan, terserah tuhan mau menulis skenario seperti apa toh aku sudah berusaha.
 Ada juga sekolompok manusia dengan jalan pemikiran yang sangat ambisius, mereka ini sekelompok orang yang sangat berambisi dalam hidupnya, terlalu memakasa Tuhan untuk mengabulkan semua kebutuhan dan keinginannya, dengan dalih mereka telah banyak berusaha.
Kemudian ada sekumpulan manusia setengah dewa. Mereka memiliki pemikiran bahwa mereka adalah manusia suci tanpa dosa, menjadikan dirinya sebagai kiblat kebenaran, menjadikan jalannya satu satunya jalan pembelajaran, menuntut pasangan layaknya malaikat yang tiada cacat fisik dan moralnya serta terlalu pandai menilai dosa orang lain. Menurut mereka manusia bukan hanya mampu menilai secara horisontal tetapi juga secara vertikal.
Dan Mungkin ada lagi beberapa lagi golongan manusia, hanya otakku yang terlalu jauh untuk menjangkau dan mengertinya. Ah.. ... aku sendiri masih galau, termasuk golongan mana aku ini. entahlah, sama sekali bukan hakku untuk menilai, biarkan Tuhan yang menilai dan menggolongkan aku pada golongan yang mana.
Namun yang aku rasa tidak ada ketulusan diantara manusia, tidak ada manusia yang tidak mengharapkan imbalan dan tidak ada yang benar benar rela dalam melakukan setiap hal. Hanya saja diantara manusia banyak yang terlalu munafik dengan diri mereka sendiri. Membiarkan dirinya mendzolimi diri sendiri dengan membiarkan dirinya melakukan pembohongan perasaan demi satu hal bernama pencitraan dihadapan manusia lain dan dihadapan Tuhan.
Entah aku hanya manusia, aku pun tidak tahu apakah aku seperti manusia kebanyakan atau tidak. Kulimpahkan hak untuk menilai itu kepada Tuhan. Sang pencipta kehidupan.
Kembali lagi otakku terbayang wajah polos si Aisyah gadis kecil yang baru pertama kali aku temui . Aisshh.. kenapa wajah polosnya terus melayang layang dikepalaku?.
 Kemudian otakku membayangkan bagaimana Aisyah dewasa, akan termasuk golongan manusia manakah dia? Apakah dia juga akan mebiarkan dirinya menjadi manusia munafik?. Ketakutan akan prubahan Asiyah, membuat hatiku memberontak dan menolak Asiyah kecil menjadi dewasa.
Satu jam aku menunggu, akhirnya Hujan reda. Aku berjalan menuju tempat parkir sepeda motor bututku yang sudah mulai banyak keluhan ini itu. Kadang tanpa sadar aku memarahi sepeda motor tanpa dosa itu.
“kenapa kau ngambek lagi,apa kau mau aku ganti dengan yang baru?, Apa Kau mau masuk ditempat rongsokan, bersama besi besi tua dan berkarat itu?. Jadi nurut ya, yang betul kalau kuajak ngebut dijalanan !”.
Padahal kalimat itu adalah kalimat penghibur untukku sendiri, mengingat saldo yang belum cukup untuk membeli Sepeda motor baru.

5 komentar: