laman

Selasa, 20 September 2016

Siapa yang salah ?




Termenung sang bapak di bilik sudut rumah mungilnya. banyak sekali yang berkutat dibenak bapak.
rumah bocor sana sini,
parit depan rumah tersumbat sampah hingga air meluap jika hujan turun.
pendapatan keluarga tak cukup lagi untuk makan keluarganya apalagi untuk membenahi rumah yang sudah mulai rusak.
tidak ada jalan lain, selain berhutang kepada tetangga.


"pak kenapa rumah kita masih saja banjir, apa bapak tidak membersihkan parit didepan rumah kita?”. teriak sang sulung.
"pak kamarku bocor, bagaimana aku bisa tidur nyenyak jika kasurku basah seperti ini". teriak sang bungsu
"pak beras kita sudah habis, apa bapak punya uang?. kasian anak anak kita belum makan hari ini" keluh sang istri.


serasa mau pecah kepala bapak mendengar teriakan anak anaknya dan keluhan sang istri.


"apa masih banjir nak? kemarin bapak sudah mencoba membersihkannya tapi belum selesai, kau tau kan bapak bekerja sendiri?".
"iya sebentar, bapak sedang membersihkan parit setelah ini bapak betulkan atap dikamarmu".
"ibu coba pergi kerumah tetangg, tanyakan apakah masih mau meminjami beras lagi. hari ini aku belum punya uang. Ibu tau sendiri satu minggu ini aku sibuk membenahi rumah dan tidak bekerja".

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

kenapa semua persoalan harus aku yang menyelesaikan dan mencari jalan keluar. padahal jika istriku mampu mengatur pendapatan keluarga dengan baik aku rasa kami tidak akan sesulit ini. lahan disamping rumah kan luas mengapa dia tidak menanam sayur dan singkong. bukankah itu bisa kita makan bahkan bisa kita jual kepada tetangga? aku rasa sang sulung mampu untuk membersihkan parit didepan rumah dan sang bungsu mampu membenahi atap yang bocor. tapi kenapa harus aku yang harus melakukannya?
bukankah jika mereka bisa melakukan sendiri aku bisa bekerja untuk pendidikan anak anakku dan kesejahteraan istriku?
Jika mereka semua mau bekerja aku rasa kita akan menjadi keluarga yang makmur. Rumah mungil ini akan mampu kami bangun menjadi istana yang nyaman dan megah. Lahan disamping rumah yang subur akan ditumbuhi tanaman tanaman yang bisa kita manfaatkan sebagai sumber pangan dan tambahan penghasilan keluarga.
Kenapa mereka hanya berteriak dan marah ketika tau bahwa angka hutang keluarga ini membengkak? Harus seperti apa aku menghadapi mereka? Setiap hari hanya keluhan dan marah yang aku dengar hingga aku tak mampu bekerja dengan tenang.

huuuhh, andaikan mereka mau mengerti.


tiba tiba listrik padam.
"pakkkkk listrik mati" teriak anak dan istrinya.
sudah 3 bulan listrik tak mampu dia bayar.


siapa yang salah?


--------------------------------------------------------
Indonesia adalah keluarga, apakah kita hanya bisa mengandalkan sang Bapak tanpa mau bergerak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar