rumah bocor
sana sini,
parit depan
rumah tersumbat sampah hingga air meluap jika hujan turun.
pendapatan
keluarga tak cukup lagi untuk makan keluarganya apalagi untuk membenahi rumah
yang sudah mulai rusak.
tidak ada
jalan lain, selain berhutang kepada tetangga.
"pak
kenapa rumah kita masih saja banjir, apa bapak tidak membersihkan parit didepan
rumah kita?”. teriak sang sulung.
"pak
kamarku bocor, bagaimana aku bisa tidur nyenyak jika kasurku basah seperti ini".
teriak sang bungsu
"pak
beras kita sudah habis, apa bapak punya uang?. kasian anak anak kita belum
makan hari ini" keluh sang istri.
serasa mau
pecah kepala bapak mendengar teriakan anak anaknya dan keluhan sang istri.
"apa
masih banjir nak? kemarin bapak sudah mencoba membersihkannya tapi belum
selesai, kau tau kan bapak bekerja sendiri?".
"iya
sebentar, bapak sedang membersihkan parit setelah ini bapak betulkan atap
dikamarmu".
"ibu
coba pergi kerumah tetangg, tanyakan apakah masih mau meminjami beras lagi.
hari ini aku belum punya uang. Ibu tau sendiri satu minggu ini aku sibuk membenahi
rumah dan tidak bekerja".
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
kenapa semua
persoalan harus aku yang menyelesaikan dan mencari jalan keluar. padahal jika
istriku mampu mengatur pendapatan keluarga dengan baik aku rasa kami tidak akan
sesulit ini. lahan disamping rumah kan luas mengapa dia tidak menanam sayur dan
singkong. bukankah itu bisa kita makan bahkan bisa kita jual kepada tetangga?
aku rasa sang sulung mampu untuk membersihkan parit didepan rumah dan sang
bungsu mampu membenahi atap yang bocor. tapi kenapa harus aku yang harus
melakukannya?
bukankah
jika mereka bisa melakukan sendiri aku bisa bekerja untuk pendidikan anak
anakku dan kesejahteraan istriku?
Jika mereka
semua mau bekerja aku rasa kita akan menjadi keluarga yang makmur. Rumah mungil
ini akan mampu kami bangun menjadi istana yang nyaman dan megah. Lahan
disamping rumah yang subur akan ditumbuhi tanaman tanaman yang bisa kita
manfaatkan sebagai sumber pangan dan tambahan penghasilan keluarga.
Kenapa mereka
hanya berteriak dan marah ketika tau bahwa angka hutang keluarga ini
membengkak? Harus seperti apa aku menghadapi mereka? Setiap hari hanya keluhan
dan marah yang aku dengar hingga aku tak mampu bekerja dengan tenang.
huuuhh, andaikan mereka mau mengerti.
tiba tiba
listrik padam.
"pakkkkk
listrik mati" teriak anak dan istrinya.
sudah 3
bulan listrik tak mampu dia bayar.
siapa yang
salah?
--------------------------------------------------------
Indonesia
adalah keluarga, apakah kita hanya bisa mengandalkan sang Bapak tanpa mau bergerak?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar