Hari ini aku mencoba menjadi manusia seperti biasa, pergi ke
keramaian dan bertemu dengan banyak manusia yang sebenar benarnya manusia.
“bapak ibu, saya fotoin” aku mencoba menawarkan bantuan pada
sebuah keluarga yang kesulitan ketika melakukan wefie.
“nggih mbak, maturnuwun sanget” sang ibu tampak tidak
menolak tawaranku.
Dalam hati iri sekali melihat keluarga ini, nampak sang Ayah
dengan sabar menggendong puteri kecilnya dan menggandeng sang Istri yang sedang
hamil besar.
“sudah mbak, cukup”. kata sang Ayah
“nggih pak, ngapunten kalau hasilnya kurang bagus”. Kataku
sambil memberikan hanphone yang ukuranyya kurang lebih 5 inchi itu.
“iya ndak papa mbak”. Kata sang Ayah
“Adek cantik sekali namanya siapa?”. Sambil memegang tangan
gadis kecil yang sedang dalam gendongan sang Ayah
“Aisyah”. Jawab gadis berumur sekitar 3 tahun itu dengan
singkat dan malu-malu
“Aisyah cantik sekali” kataku sambil memegang pipinya.
“ terimakasih mba, ngomong ngomong saya pulang dulu sudah mulai gerimis takutnya
nanti hujan deras. Monggo mbak” sang ibu berpamitan denganku sambil tersenyum
ramah.
“nggih ibu bapak hati hati dijalan”. Jawabku dengan senyuman
andalanku. Menurutku senyuman macam ini senyuman paling manis yang diciptakan
Tuhan.
Gadis mungil nan menggemaskan itu masih saja memandangku
sambil tersenyum, Bahkan dari dalam mobil dia sempat melambaikan tangannya.
betapa menggemaskan anak itu, kepolosannya kemudian secara tiba tiba membuat
otakku melupakan banyak persoalan.
Gerimis itu kemudian berubah menjadi hujan yang sangat
deras, kuurungkan niatku untuk pulang dan memutuskan untuk berteduh dahulu
sambil menunggu hujan reda. Ternyata bukan hanya aku yang memilih menunggu
hujan reda sebelum meninggalkan salah
satu taman di kota solo itu.
Aku pandangi beberapa
wajah mereka. mereka bagaikan memiliki dunia masing masing, yang mereka
ciptakan sendiri.
Ada yang marah menyalahkan hujan kenapa turun, padahal dia harus buru buru pulang kerumah. beraninya
dia menyalahkan hujan, kenapa dia tak
mengiirim surat protes kepada Tuhan?. Buakankah Tuhan yang memerintahlan hujan turun
? . entahlah.
Ada yang sangat menikmati hujan sambil bersandar dibahu sang
kekasih, entah apa yang ada dibenaknya hingga orang itu dengan percaya diri
menunjukkan kemesraan dengan laki laki yang bukan muhrimnya dihadapan orang
banyak, hmmm biarlah aku rasa itu bukan urusanku.
Ada segerombolan remaja yang saling bercanda satu sama lain, terlihat ada
satu diantara mereka yang menjadi bahan bully-an, candaan khas remaja. Tiba
tiba aku menghitung usia, ah sayangnya usiaku sudah tidak termasuk golongan
remaja lagi.
Ada pula yang sibuk dengan gadgetnya, mungkin sedang sibuk
update status “hujan”, atau mungkin sedang sibuk mengubungi orang terdekat
untuk menjemput. Terlintas dibenakku untuk menyapanya, namun kuurungkan niat
itu seketika.
Pemandangan seperti ini membuatku sedikit terheran. Mengapa
mereka tidak saling mengobrol? Apa karna tidak kenal? Bukankah dengan saling
menyapa mereka akan mengenal satu sama lain? Contohnya seperti aku dengan
Aisyah. gadis kecil itu keluar lagi di
otakku. lambaian tangannya, senyumannya tiba tiba menghadirkan rindu.
Memang manusia memiliki kepala yang dengan Pencipta yang
sama, namun ternyata dalam kepala manusia diisi oleh otak yang tidak sama dan
pemikiran yang berbeda. Hujan itu membuat aku sedikit mengerti bahwa menyamakan
pemikiran antar manusia tidaklah mudah.
Ada banyak manusia dengan golongan pemikiran yang berbeda.
Ada beberapa manusia dengan pemikiran sederhanya, Asalkan
dia tidak melakukan hal yang dilarang dan merugikan orang lain maka hidupnya
aman.
Kelompok berikutnya
manusia dengan penuh kepasrahan, terserah tuhan mau menulis skenario seperti
apa toh aku sudah berusaha.
Ada juga sekolompok
manusia dengan jalan pemikiran yang sangat ambisius, mereka ini sekelompok
orang yang sangat berambisi dalam hidupnya, terlalu memakasa Tuhan untuk
mengabulkan semua kebutuhan dan keinginannya, dengan dalih mereka telah banyak
berusaha.
Kemudian ada sekumpulan manusia setengah dewa. Mereka
memiliki pemikiran bahwa mereka adalah manusia suci tanpa dosa, menjadikan
dirinya sebagai kiblat kebenaran, menjadikan jalannya satu satunya jalan
pembelajaran, menuntut pasangan layaknya malaikat yang tiada cacat fisik dan
moralnya serta terlalu pandai menilai dosa orang lain. Menurut mereka manusia
bukan hanya mampu menilai secara horisontal tetapi juga secara vertikal.
Dan Mungkin ada lagi beberapa lagi golongan manusia, hanya
otakku yang terlalu jauh untuk menjangkau dan mengertinya. Ah.. ... aku sendiri
masih galau, termasuk golongan mana aku ini. entahlah, sama sekali bukan hakku
untuk menilai, biarkan Tuhan yang menilai dan menggolongkan aku pada golongan
yang mana.
Namun yang aku rasa tidak ada ketulusan diantara manusia,
tidak ada manusia yang tidak mengharapkan imbalan dan tidak ada yang benar
benar rela dalam melakukan setiap hal. Hanya saja diantara manusia banyak yang
terlalu munafik dengan diri mereka sendiri. Membiarkan dirinya mendzolimi diri
sendiri dengan membiarkan dirinya melakukan pembohongan perasaan demi satu hal
bernama pencitraan dihadapan manusia lain dan dihadapan Tuhan.
Entah aku hanya manusia, aku pun tidak tahu apakah aku
seperti manusia kebanyakan atau tidak. Kulimpahkan hak untuk menilai itu kepada
Tuhan. Sang pencipta kehidupan.
Kembali lagi otakku terbayang wajah polos si Aisyah gadis
kecil yang baru pertama kali aku temui . Aisshh.. kenapa wajah polosnya terus
melayang layang dikepalaku?.
Kemudian otakku
membayangkan bagaimana Aisyah dewasa, akan termasuk golongan manusia manakah
dia? Apakah dia juga akan mebiarkan dirinya menjadi manusia munafik?. Ketakutan
akan prubahan Asiyah, membuat hatiku memberontak dan menolak Asiyah kecil
menjadi dewasa.
Satu jam aku menunggu, akhirnya Hujan reda. Aku berjalan
menuju tempat parkir sepeda motor bututku yang sudah mulai banyak keluhan ini
itu. Kadang tanpa sadar aku memarahi sepeda motor tanpa dosa itu.
“kenapa kau ngambek lagi,apa kau mau aku ganti dengan yang
baru?, Apa Kau mau masuk ditempat rongsokan, bersama besi besi tua dan berkarat
itu?. Jadi nurut ya, yang betul kalau kuajak ngebut dijalanan !”.
Padahal kalimat itu adalah kalimat penghibur untukku
sendiri, mengingat saldo yang belum cukup untuk membeli Sepeda motor baru.