laman

Selasa, 20 September 2016

Kampungan



Dua gadis itu masih saja tak beranjak dari warung bakso yang tak asing lagi namanya bagi orang orang dikota kecil itu.  Seperti halnya hujan diluar sana masih saja setia bernyanyi dengan rintiknya.
“kerupuk ..” sari menawarkan krupuk kepada sri
“iya..” sahut Sri sambil menyeruput teh panas.
Dingin sabtu malam itu terasa sangat sempurna, ketika hujan hampir dua jam mengguyur badan kedua mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di jawa tengah ini. Yah ,,,, di warung itu mereka bisa sedikit menghangatkan badan dan mengisi perut yang mulai keroncongan karena belum terisi makanan dari siang.
“besok ada evaluasi apa ya?" tanya sari
“seingatku manajemen operasional kurang tau kalau yang lain, mungkin pertemuan minggu depan". jawab Sri
Entah karena apa obrolan mereka terdengar lebih serius dari biasanya. Dan mereka harus segera beranjak pulang karena hujan diluarsana mulai reda.
“sampun bu, bakso kalih, teh anget kalih, kerupuk setunggal”
“nggih mbak, sedayanipun nemliku"
Kemudian Sari menyerahkan selembar uang pecahan dua puluh ribu dan tiga lembar uang pecahan dua ribu yang diambil dari kantong jaketnya.
“sudah berapa kali kau bayari makanku ?". tanya sri kepada sahabatnya itu.
“ahh kau ini.. berlaga polos. Aku tau di dompetmu itu penghuninya Cuma KTP dan kartu ATM yang sudah tidak bersaldo lagi” jawab sari dengan nada bercanda
“ haha kau ini memang sahabatku yang paling mengerti. Tapi malam ini tak perlu kau antar aku pulang. Ini sudah malam sebaiknya kau langsung pulang saja. Aku bisa jalan kaki lewat pasar." Sri coba meminta agar sahabatnya itu tidak mengantarnya pulang seperti biasanya.
“baiklah jika maumu seperti itu, sampai ketemu besok ya”  sedikit berteriak Sari berpamitan kepada teman satu kelasnya itu.
Persahabatan mereka tergambar sangat sederhana, dua gadis berbeda latar belakang ekonomi itu sama sama memilih hidup dengan sederhana. Jauh dari hingar bingar kehidupan teman-teman mereka dikampus yang mengatakan mereka kurang up to date dalam berpakaian dan bergaul.
Hidup ini pilihan. Dan mereka lebih memilih untuk hidup ‘kampungan’.
 Kadang terlintas dibenak Sri untuk membeli pakaian dengan model terbaru, dan menonton film terbaru di bioskob seperti teman temannya dikampus,  Namun Sri  sadar uang beasiswa yang diberikan adalah penghargaan yang harus benar benar Ia manfaatkan untuk pendidikan bukan untuk memenuhi gaya hidup. toh baju mereka sangatlah sopan dan masih layak untuk diapaki, film bisa mereka tonton nanti jika sudah ditayangkan ditelevisi, ceritanya tidak akan berubah kan?.
“Sari saja yang anaknya orang kaya bisa hidup sesederhana itu, kenapa aku harus tampil seperti orang kaya” pikir Siti dalam hatinya
Kreek... ternyata tas punggung  yang sudah dibeli Sri 2 tahun lalu dengan harga tak lebih dari seratus ribu sudah tak mampu lagi membawa beban berat buku buku yang ditampungnya.
“huuuh kenapa sobek, padahal belum lama aku beli “ terlihat kesedihan di wajah sri
Tas satu satunya yang dia miliki benar benar tidak bisa dipakai lagi. Sri kemudian berjalan menuju mesin  Anjungan Tunai Mandiri. Sebelumnya Sri  belum pernah memiliki rekening disebuah bank, jangankan memiliki rekening tabungan bisa makan setiap hari saja sri sudah sangat bersyukur.
Satu juta sembilan puluh tujuh lima ratus rupiah. Saldo tabungan beasiswa sri. Uang itu harus dia kurangi untuk membeli tas, sisanya harus ia manfaatkan dengan baik, paling tidak selama dua bulan kedepan sampai uang beasiswa semester berikutnya cair.
Tidak ada gambaran hidup berat di wajah sri. Dia yakin bahwa semuanya pasti akan berubah. Allah tidak akan mengabaikan setiap doanya dipenghujung malam. kesehatan untuk bapak dan emaknya, kebaikan untuk adik adiknya dan nasib yang baik untuk dirinya sendiri dan sahabatnya Sari.
Merekalah alasan terbesar mengapa sri sampai sekarang masih sekuat da setegar ini.
Kemudian Biarkan Sri menjadi dirinya sendiri. Layaknya hujan yang selalu turun dengan apa adanya, layaknya langit sore dengan penuh kesederhanaan, keindahan Dan kehangatannya, dan layaknya batu karang yang selalu kokoh walau diterpa ombak setiap saat. Biarkanlah Sri seperti itu adanya.

6 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. kutunggu untuk yang kedua hingga yang tak berujung gang :)

      Hapus
  3. Sudah ada aja yang komentar nhi. Lanjut

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih untuk ilmunya :)beharap lain waktu bisa belajar lebih banyak lagi

      Hapus
    2. Untuk pembuatan judul kalau bisa dalam bentuk Frasa atau klausa dengan jumlah sekitar 4-6 suku kata sudah cukup mencerimkan isi artikel. Contoh pada artikel web berita

      Hapus