laman

Selasa, 11 Oktober 2016

Menuju cinta yang mengerti




Ini bukan lagi tentang pembicaraan antara dua manusia, ini tentang  hubungan hati manusia yang berbeda. Hati yang awalnya memiliki perasaan yang tidak sama, kemudian dipaksa  untuk menjadi sama. Hingga akhirnya usaha itu hanya sia-sia, karena pada dasarnya dua perasaan itu tidak akan pernah bisa disamakan. Banyak pasangan yang tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi dan menemukan solusi dari permasalahan perbedaan itu, hingga akhirnya memutuskan untuk berpisah.

Tuhan telah menciptakan manusia dengan ‘rasa’nya masing-masing. Tidak akan pernah sama, dan tidak akan menjadi sama. Cara terbaik untuk perbedaan ini adalah menyelaraskannya, memahami bahwa memang takdir dua rasa tak akan bisa sama. Begitu pula dengan Kepala manusia yang diciptakan Tuhan dengan isinya masing-masing. Manusia hanya bisa menugaskan otak dikepalanya untuk meredam ego, memintanya untuk mengalah akan hal yang menyangkut perasaan diri ingin menang dari perasaan pasangan. Kerjasama antara otak dan hati ini  akhirnya akan membentuk “rasa saling mengerti”.

Jika hati dan otak belum bisa bekerjasama, maka pendewasaan dalam hubungan hanyalah pendewasaan semu, tidak akan ada orang terakhir, yang ada hanya yang kesekian dan kesekian. Tidak akan ada bedanya orang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, karena mereka tidak akan bisa menjadi pelabuhan yang abadi, mereka hanya persinggahan sementara.

Ketika hati dan otak sudah bisa saling bersinergi, kemudian langkah terbaik adalah mematangkan mental. Seseorang yang telah matang mentalnya, dirinya tidak akan mudah marah, tidak emosional dan tidak ingin terus menang dari pasangannya. Saat seseorang telah matang, dia tidak akan mudah lari dari masalah yang ada dalam hubungannya dia akan mencari solusi, memperbaiki komunikasi dan mencoba untuk mengerti.

Komunikasi yang lancar serta saling menngingatkan dalam kasih sayang dan kelembutan dapat meyatukan visi dalam suatu hubungan.  Menyatunya visi dengan diikuti dengan kesabaran akan menciptakan “cinta yang saling mengerti”. Bukan hanya mengerti baiknya dari pasangan, tetapi juga mengerti akan kekurangan pasangan tanpa penolakan dari hati dan otak.

Karena hubungan tidak pernah mudah, maka usaha yang baik untuk meraih keharmonisan hubungan adalah hal yang utama. Antara dua insan harus saling membangun “cinta yang mengerti”, cinta yang mengerti bahwa segalanya tidak berjalan dengan mulus. Cinta yang yang tidak mengharapkan segala kebaikan dari pasangan, namun cinta yang menerima dan memaafkan kekurangan dari pasangan. Cinta yang memahami bahwa kebahagiaan yang hakiki perlu diperjuangkan bersama.

Dengan cinta yang saling mengerti tidak akan ada perselisihan yang berkepanjangan dalam hubungan. Karena antara dua insan bisa duduk bersama, saling menatap dengan rasa cinta, merelakan dua pasang telinga untuk saling mendengarkan, melatih dua lidah untuk tidak saling menyakiti, menjaga dua hati untuk saling menyayangi. Juga menjaga diri untuk tidak mudah mengatakan pisah. karena setiap perpisahan hanya akan menyisakan penyesalan.

duhai hati,.....
Dinginkan kepalaku, jika otakku kian memanas karena rasaku berbeda dengan rasanya..
Ajak kepalaku beristirahat, ketika otakku bersikeras untuk  menempatkan diriku  diatas rasanya..
Sabarlah duhai hati, ketika aku mulai marah dan mulai membenci sesuatu yang ada pada dirinya...
Sadarkan bahwa dia bukanlah makhluk yang sempurna, dia sama sepertiku, sama sama sedang mengusahakan cinta yang saling mengerti..
Duhai diri,,,
Janganlah mudah mempunyai kemauan untuk segera berpisah dengannya..
Ingatlah bahwa perjuangan yang harus dilewati masih sangatlah pamjang, maka kuatlah.
Duhai hati...
Aku tidak mau yang datang padaku hanya menjadi yang kesekian dan kesekian, aku hanya menginginkan dia menjadi pelabuhan yang terakhir...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar