Ini bukan lagi tentang
pembicaraan antara dua manusia, ini tentang hubungan hati manusia yang berbeda. Hati yang
awalnya memiliki perasaan yang tidak sama, kemudian dipaksa untuk menjadi sama. Hingga akhirnya usaha itu
hanya sia-sia, karena pada dasarnya dua perasaan itu tidak akan pernah bisa
disamakan. Banyak pasangan yang tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi dan
menemukan solusi dari permasalahan perbedaan itu, hingga akhirnya memutuskan
untuk berpisah.
Tuhan telah menciptakan manusia
dengan ‘rasa’nya masing-masing. Tidak akan pernah sama, dan tidak akan menjadi
sama. Cara terbaik untuk perbedaan ini adalah menyelaraskannya, memahami bahwa
memang takdir dua rasa tak akan bisa sama. Begitu pula dengan Kepala manusia
yang diciptakan Tuhan dengan isinya masing-masing. Manusia hanya bisa
menugaskan otak dikepalanya untuk meredam ego, memintanya untuk mengalah akan
hal yang menyangkut perasaan diri ingin menang dari perasaan pasangan. Kerjasama
antara otak dan hati ini akhirnya akan
membentuk “rasa saling mengerti”.
Jika hati dan otak belum bisa
bekerjasama, maka pendewasaan dalam hubungan hanyalah pendewasaan semu, tidak
akan ada orang terakhir, yang ada hanya yang kesekian dan kesekian. Tidak akan
ada bedanya orang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, karena mereka tidak
akan bisa menjadi pelabuhan yang abadi, mereka hanya persinggahan sementara.
Ketika hati dan otak sudah bisa
saling bersinergi, kemudian langkah terbaik adalah mematangkan mental.
Seseorang yang telah matang mentalnya, dirinya tidak akan mudah marah, tidak
emosional dan tidak ingin terus menang dari pasangannya. Saat seseorang telah
matang, dia tidak akan mudah lari dari masalah yang ada dalam hubungannya dia
akan mencari solusi, memperbaiki komunikasi dan mencoba untuk mengerti.
Komunikasi yang lancar serta
saling menngingatkan dalam kasih sayang dan kelembutan dapat meyatukan visi
dalam suatu hubungan. Menyatunya visi
dengan diikuti dengan kesabaran akan menciptakan “cinta yang saling mengerti”.
Bukan hanya mengerti baiknya dari pasangan, tetapi juga mengerti akan
kekurangan pasangan tanpa penolakan dari hati dan otak.
Karena hubungan tidak pernah
mudah, maka usaha yang baik untuk meraih keharmonisan hubungan adalah hal yang
utama. Antara dua insan harus saling membangun “cinta yang mengerti”, cinta
yang mengerti bahwa segalanya tidak berjalan dengan mulus. Cinta yang yang
tidak mengharapkan segala kebaikan dari pasangan, namun cinta yang menerima dan
memaafkan kekurangan dari pasangan. Cinta yang memahami bahwa kebahagiaan yang
hakiki perlu diperjuangkan bersama.
Dengan cinta yang saling mengerti
tidak akan ada perselisihan yang berkepanjangan dalam hubungan. Karena antara dua
insan bisa duduk bersama, saling menatap dengan rasa cinta, merelakan dua pasang
telinga untuk saling mendengarkan, melatih dua lidah untuk tidak saling
menyakiti, menjaga dua hati untuk saling menyayangi. Juga menjaga diri untuk
tidak mudah mengatakan pisah. karena setiap perpisahan hanya akan menyisakan penyesalan.
duhai
hati,.....
Dinginkan
kepalaku, jika otakku kian memanas karena rasaku berbeda dengan rasanya..
Ajak
kepalaku beristirahat, ketika otakku bersikeras untuk menempatkan diriku diatas rasanya..
Sabarlah duhai
hati, ketika aku mulai marah dan mulai membenci sesuatu yang ada pada dirinya...
Sadarkan
bahwa dia bukanlah makhluk yang sempurna, dia sama sepertiku, sama sama sedang mengusahakan
cinta yang saling mengerti..
Duhai
diri,,,
Janganlah
mudah mempunyai kemauan untuk segera berpisah dengannya..
Ingatlah
bahwa perjuangan yang harus dilewati masih sangatlah pamjang, maka kuatlah.
Duhai
hati...
Aku tidak
mau yang datang padaku hanya menjadi yang kesekian dan kesekian, aku hanya
menginginkan dia menjadi pelabuhan yang terakhir...”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar