laman

Jumat, 14 Oktober 2016

Bagaimana menyikapi hubungan jarak jauh atau long distance relationship?




Jarak, menjadi momok menakutkan bagi setiap pasangan. Menurut mereka jarak adalah sekat yang memisahkan antara dua insan yang sedang menjalin hubungan. Benarkah?.

Siapa orang yang tidak ingin selalu berdekatan dengan sang pujaan hati, melakukan banyak hal bersamanya? Tapi bagaimana dengan mereka yang berhubungan jarak jauh? Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan hal secara bersama sama, sedangkan jarak tak memungkinkan untuk hal itu.


Sejatinya jika kita berbicara cinta dan kasih, tidak akan ada hal apapun yang mampu memisahkan  bahkan jarak sekalipun. Mereka yang takut akan jarak bukanlah orang yang percaya pada cinta. Cinta yang sejati akan selalu merasa dekat. Apa bisa?. Bisa. Seorang yang saling mencintai secara tulus dia akan saling mendoakan, mendekatkan diri kepada sang pencipta. Dia akan mencintai Tuhannya lebih dari mencintai pasangannya, semakin dekat dia dengan Tuhan maka jarak yang jauh dari pasangan akan terasa dekat, karena mereka merasa bahwa  meraka tetap menjadi satu. Menjadi satu dipangkuan Tuhan yang Maha pengasih dan penyayang. Itulah cinta.


Long distance relationship atau hubungan jarak jauh hanya akan mampu dilewati oleh mereka yang berhati besar, orang yang memiliki kemandirian, orang yang mampu dipercaya  dan orang yang memiliki kepercayaan. meraka yang mandiri tanpa harus merengek rengek kepada pasangan untuk menemaninya setiap saat. Mereka yang bisa menjaga kepercayaan  dengan bisa dipercaya, mereka sadar bahwa Tuhan selalu melihat apa yang dia lakukan ketika jauh dari sang pujaan hati.


Jika dalam hati seseorang memiliki cinta yang sebenar benarnya cinta maka tidak akan terjadi masalah karena jarak. Yang terpenting dalam hubungan jarak jauh adalah prinsip. Prinsip cinta yang sesungguhnya. Dua insan yang berhubungan jarak jauh harus memiliki cinta yang mengerti.


Percayalah suatu saat Tuhan akan menyatukan dua raga yang terpisah jauh dalam suatu keluarga yang bahagia, keluarga yang sangat menghargai akan kebersamaan, keluarga dengan cinta yang mengerti dan keluarga penuh kelembutan. Pasangan yang telah dihadapkan oleh cobaan berupa jarak akan lebih kuat dalam mengahadapi tantangan berikutnya. Percayalah kepada Tuhan maka akan kamu ditegarkan.


Long distance relationship just created for someone who have the true love in their heart. ingat bukan sembarang orang yang dihadapkan oleh jarak.


Selasa, 11 Oktober 2016

Menuju cinta yang mengerti




Ini bukan lagi tentang pembicaraan antara dua manusia, ini tentang  hubungan hati manusia yang berbeda. Hati yang awalnya memiliki perasaan yang tidak sama, kemudian dipaksa  untuk menjadi sama. Hingga akhirnya usaha itu hanya sia-sia, karena pada dasarnya dua perasaan itu tidak akan pernah bisa disamakan. Banyak pasangan yang tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi dan menemukan solusi dari permasalahan perbedaan itu, hingga akhirnya memutuskan untuk berpisah.

Tuhan telah menciptakan manusia dengan ‘rasa’nya masing-masing. Tidak akan pernah sama, dan tidak akan menjadi sama. Cara terbaik untuk perbedaan ini adalah menyelaraskannya, memahami bahwa memang takdir dua rasa tak akan bisa sama. Begitu pula dengan Kepala manusia yang diciptakan Tuhan dengan isinya masing-masing. Manusia hanya bisa menugaskan otak dikepalanya untuk meredam ego, memintanya untuk mengalah akan hal yang menyangkut perasaan diri ingin menang dari perasaan pasangan. Kerjasama antara otak dan hati ini  akhirnya akan membentuk “rasa saling mengerti”.

Jika hati dan otak belum bisa bekerjasama, maka pendewasaan dalam hubungan hanyalah pendewasaan semu, tidak akan ada orang terakhir, yang ada hanya yang kesekian dan kesekian. Tidak akan ada bedanya orang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, karena mereka tidak akan bisa menjadi pelabuhan yang abadi, mereka hanya persinggahan sementara.

Ketika hati dan otak sudah bisa saling bersinergi, kemudian langkah terbaik adalah mematangkan mental. Seseorang yang telah matang mentalnya, dirinya tidak akan mudah marah, tidak emosional dan tidak ingin terus menang dari pasangannya. Saat seseorang telah matang, dia tidak akan mudah lari dari masalah yang ada dalam hubungannya dia akan mencari solusi, memperbaiki komunikasi dan mencoba untuk mengerti.

Komunikasi yang lancar serta saling menngingatkan dalam kasih sayang dan kelembutan dapat meyatukan visi dalam suatu hubungan.  Menyatunya visi dengan diikuti dengan kesabaran akan menciptakan “cinta yang saling mengerti”. Bukan hanya mengerti baiknya dari pasangan, tetapi juga mengerti akan kekurangan pasangan tanpa penolakan dari hati dan otak.

Karena hubungan tidak pernah mudah, maka usaha yang baik untuk meraih keharmonisan hubungan adalah hal yang utama. Antara dua insan harus saling membangun “cinta yang mengerti”, cinta yang mengerti bahwa segalanya tidak berjalan dengan mulus. Cinta yang yang tidak mengharapkan segala kebaikan dari pasangan, namun cinta yang menerima dan memaafkan kekurangan dari pasangan. Cinta yang memahami bahwa kebahagiaan yang hakiki perlu diperjuangkan bersama.

Dengan cinta yang saling mengerti tidak akan ada perselisihan yang berkepanjangan dalam hubungan. Karena antara dua insan bisa duduk bersama, saling menatap dengan rasa cinta, merelakan dua pasang telinga untuk saling mendengarkan, melatih dua lidah untuk tidak saling menyakiti, menjaga dua hati untuk saling menyayangi. Juga menjaga diri untuk tidak mudah mengatakan pisah. karena setiap perpisahan hanya akan menyisakan penyesalan.

duhai hati,.....
Dinginkan kepalaku, jika otakku kian memanas karena rasaku berbeda dengan rasanya..
Ajak kepalaku beristirahat, ketika otakku bersikeras untuk  menempatkan diriku  diatas rasanya..
Sabarlah duhai hati, ketika aku mulai marah dan mulai membenci sesuatu yang ada pada dirinya...
Sadarkan bahwa dia bukanlah makhluk yang sempurna, dia sama sepertiku, sama sama sedang mengusahakan cinta yang saling mengerti..
Duhai diri,,,
Janganlah mudah mempunyai kemauan untuk segera berpisah dengannya..
Ingatlah bahwa perjuangan yang harus dilewati masih sangatlah pamjang, maka kuatlah.
Duhai hati...
Aku tidak mau yang datang padaku hanya menjadi yang kesekian dan kesekian, aku hanya menginginkan dia menjadi pelabuhan yang terakhir...”